Lema makanan Khas BENGKULU
Lema yang disebut juga lemah, lemeah, atau lemag, merupakan sejenis gulai. Sajian khas Suku Rejang di Rejanglebong, Kepahiang, Bengkulu Utara.
Lema sendiri berasal dari bahasa Rejang "lemeah" yang berarti perasaan lemah atau tidak bertenaga karena nikmatnya masakan tersebut. Sejak ratusan tahun silam, lema kerap disajikan pada acara perayaan hari besar keagamaan, menjamu tamu dari luar daerah, sajian di acara pernikahan, dan hajatan lainnya.
Walau jarang dikenal, hingga kini lema masih jadi kuliner kebanggaan yang digemari masyarakat rejang.
Teliti dan sabar, kunci membuat lema
Lema dibuat dari bambu muda (rebung) yang dipotong sangat tipis lalu dicincang, kemudian dicampur potongan ikan air tawar segar yang masih mentah seperti mujair, sepat, ikan mas, atau ikan sungai yang kecil agar lebih mudah membaur.
Selanjutnya adonan ditambah air. Lalu disimpan dalam wadah bertutup rapat beralas daun pisang sekitar tiga hingga lima hari agar terjadi proses fermentasi.
Inilah kunci pembuatan lema. Semakin lama rebung disimpan dalam wadah, semakin lezat pula aromanya. Setelah membusuk dan mengasam, barulah lema bisa dinikmati.
Bagi sebagian orang, lema tampak tak mengundang selera. Padahal setelah direbus hingga masak menggunakan bumbu berupa bawang putih, bawang merah, dan cabai merah serta rawit yang dicincang kasar, bau lema yang awalnya tak karuan selama fermentasi justru menghasilkan cita rasa tersendiri.
Pedas asam gurih dan segar, begitu rasanya. Apalagi setelah ditambahkan santan dan rebusan pertama air rebung, aroma gurih alaminya semakin terasa nikmat menggoyang lidah dan membuat ketagihan.
Sayangnya, tak banyak orang yang bisa mengolah resep turun-temurun lema dengan baik. Butuh ketelatenan dan kesabaran hingga berhari-hari untuk menghasilkan santapan lema yang berkualitas.
Sejak awal pembuatan, Anda perlu membuang bagian rebung yang keras. Mengupasnya harus hati-hati karena banyak terdapat miang, duri kecil dan halus yang gatal di bagian permukaan.
Pemotongan pun tak sembarangan. Rebung dan bumbu hanya boleh dicincang kasar, bukan ditumbuk sampai hancur.
Begitu pula dengan kebersihan pembuatannya. Harus selalu diperhatikan. Rebung dan ikan perlu dicuci sampai bersih.
Selain itu, tiap 8 jam air endapan rebung dan ikan yang sedang difermentasi perlu diganti dengan yang baru. Sebelum dimasak air endapan terakhir juga perlu disaring dulu hingga kering.
"Kalau orang yang membuatnya tidak bisa meraciknya maka gulai yang jadi akan terasa asam dan berbau tidak sedap," kata Armedi, salah satu pembuat gulai lema yang tinggal di Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan.
Lema yang telah masak biasa disajikan sebagai lauk pelengkap nasi. Bersama dengan lalapan seperti kabau, jering (jengkol), atau petai.
Makanan bergizi yang lebih populer di Jepang
Dibanding di Indonesia, lema jauh lebih populer sebagai makanan internasional di Jepang. Sebabnya, lidah orang Jepang jauh lebih cocok dengan cita rasa lema yang unik dan sedikit keasaman, walau penduduk Jepang sendiri tidak tahu asal-muasal makanan tersebut.
Lema yang rutin diekspor ke Jepang dikemas secara modern berbentuk kalengan. Mirip-mirip kemasan kaleng kornet atau sarden.
Bahan-bahan dalam lema diketahui bergizi tinggi. Rebung mengandung banyak protein, karbohidrat, asam amino, dan antioksidan jenis fitosterol--penangkal radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh.
Rebung juga tinggi serat sehingga dapat melancarkan pencernaan sekaligus mengurangi risiko kanker. Pun rendah lemak dan gula.
Di Tiongkok, rebung dipercaya menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Begitu pula dengan ikan yang tinggi protein dan baik untuk otak.
Hingga saat ini lema termasuk makan favorit sekaligus pengganti kebiasaan orang Jepang makan ikan mentah yang terbukti menjadi penyebab penyakit minamata, penyakit kelainan saraf akibat keracunan merkuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar